Kamis, 21 Mei 2026

Mamahami Nara Bali Dwipa

1.  Belajar Agama Hindu harus dimulai dari pemahaman diri sebagai manusia Bali, baru kemudian bagaimana manusia Bali dapat beradaptasi dengan Agama yang datang dari luar Bali. Jadi kepercayaan diri kemudian dihybrid dengan kepercayaan luar, agar kemanusiaan Bali tidak hilang karena mengikuti kepercayaan laim. 

Manusia Bali dalam konteks Sang Catur Sanak, maka manusia memiliki lima Badan: Badan Kasar dan suksmo sarira; 4 Badan Halus, Mrajapati, Anggapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Berfungsi nyaga satru, distanakan (I) di Ulum Setra (pada palinggih Mrajapati); II di Pekarangan Rumah Tugun Karang (Anggapati); di Merajan di Panglurah (Banaspati); dan di Sadpatha Banaspatiraja (di daerah Astral/Sadpatha/Nirwana/Nirbanda). 

Setelah Hindu datang, catur sanak itu dibaptis dan didewakan, menjadi dewa nyatur bahkan ngider bhuwana, Sa-Ba-Ta--I; Na-Ma Ci Wa Ya. Hakikatnya I-Ya (Aku dan engkau) dari dalam Atman dan dari luar raditya. karena dipahami bahwa hidupnya karena nafas dan makanan sebagai anugrahnya untuk hidup. Dualitas dipahami, Lingga-Yoni dibenarkan, dan kesatuan luar-dalam dipahami dengan baik. masuklah Dewa-dewa India itu di dalam tubuh (Rerajahan), untuk menuatkan Jnananya manusia Bali agar tetap bisa nemu sakti dan sidhi atau metaksu. 

Zaman peradaban air meninggalkan artefak sistem religi berikut: Jejak Pura Natar Sari Pacung, dan Jejak Pura Gubug Tamblinga (Pageh dan Akiko).






Manusia Bali menganut Bhuwana Agung vs. Bhuwana Alit nyawiji, ditunggalkan saat Ngaben dengan acara Melagia (Baligia), manunggaling Kaula-Gusti, distanakan di Mrajan menjadi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (intinya Hyang+Widhi/Wedha), sehingga memuja Widhi otomatis memuja Hyang dan sebaliknya. Banten sebagai Ajengan dan simbol ajaran Bali dan wedha India, untuk sanghyang Atma utamanya, dengan dasar ajaran "berdosalah engkau jika makan sesuatu sebelum kau persembahkan padaku (BG 10). dengan demikian Hyang Widhi itu adalah sosok hybrid sehingga beresensi sekala-niskala (brahman-atman aikyam).

Semuanya alat-alat ritual masih dapat diselusuri esensinya dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sejak zaman megalithikum (Lingga-Yoni, Tahta Batu, Funden Berundak, Menhir, dsb) masih hidup dalam bentuk hybrida. minpu kalau melihat sistem religi Bali hanya dari Wedha, demikian juga sebaliknya hanya dilihat dari sistem religi lokal, karena sudah menyatu hidup dalam ssistem kepercayaan utama yaitu pemujaan roh leluhur dengan catur sanaknya, serta benda-benda laam yang tak terjelaskan oleh logika, bergabung dengan sistem religi tradisi India yang ditulis dalam wedha beserta turunannya. tafsir manusia yang dimitoskan manusia setengah dewa menjadikan ada kepercayaan yang dibuat di dalamnya sehingga menjadi dibenarkan. Itulah kerja sistem religi dalam membentuk dirinya menjadi agama yang dianut banyak orang sehingga memproklamirkan dirinya sebagai agama terbesar, dalam penganut, tetapi belim tentu besar atau kuat seperti peradaban dan sistem religi nusantara yang bertumbuh dan hidup dalam penganiayaan sejak datangnya sistem religi dali luar, apakah dengan penyebutan adat/tradisi, musrik, kuno, agama premitif dan sebagainya. benar adalah benar, tidak ditentukan oleh ada dalam wdha, lontar, ayat suci dan sebagainya?

 Adaptasi budaya yang sangat hebat telah ditunjukkan oleh leluhur bangsa melayu austronesia di nusantara dari sabang sampai mearoke. Selamat menyimak semoga ada manfaatnya.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda